Perasan tak?
Dalam banyak-banyak keadaan, kita lebih cenderung untuk cari Allah apabila kita susah. Kita mula berdoa kepada-Nya saat kita buntu dan hilang tempat bergantung. Sebenarnya, ada hikmahnya juga Allah jadikan segala kesusahan, kesempitan, kesakitan, kesedihan dan sebagainya. Ia salah satu cara untuk tarik kita kembali ingat dan meminta kepada-Nya. Dalam surah Al-An‘am, ayat 42 Allah menegaskan:

Ini bukan cerita baharu. Allah telah sebut dengan jelas dalam Al-Quran.
Azab dan sengsara yang ditimpakan ke atas umat terdahulu, bukan semata-mata sebagai pembalasan terhadap keingkaran mereka kepada para Rasul. Ia adalah asbab untuk mereka kembali insaf dan berdoa kepada Allah dengan hati yang merendah tanda kesal dan sesal atas segala keterlanjuran mereka.
Kita juga mungkin begitu.
Doa yang dipanjatkan ketika kita senang dan selesa tidak dengan sepenuh hati. Tetapi, halnya berlainan sekali apabila kita tersepit dan berada dalam keadaan susah yang amat sangat.
Kita akan bersungguh-sungguh untuk berdoa. Jiwa kita pasrah dan menyerah. Air mata mengalir membasahi pipi. Doa yang sama diulang-ulang tanpa jemu.
Begitulah sepatutnya yang kita lakukan pada setiap doa kita, tidak kira dalam keadaan apa sekali pun.